Home > Life > Life Journey

Life Journey

Tersesat, mungkin inilah yang terjadi pada diriku saat ini. Tak tau harus kemana, tak tahu harus bagaimana. Seperti seorang yang tidak punya masa depan saja. Sejak kecil hingga masuk ke jenjang perguruan tinggi, orang tua lah yang selalu mengarahkan. Saya sebagai anak ya menurut saja. Entah itu sebagai bentuk kepatuhan atau memang saya terlalu malas untuk memikirkan masa depan saya sendiri.

Waktu kecil saya sempat bercita-cita menjadi pilot (angkatan udara), karena dulu saya sangat menyukai pesawat terbang. Namun niat itu saya urungkan setelah mendengar kabar bahwa orang yang giginya berlubang tidak boleh menjadi seorang pilot J. Entah itu benar atau tidak sampai sekarang saya pun tidak tahu.

Sejak SMP saya mulai menyukai bidang Elektronika. Saya masih ingat dulu pernah membuat sebuah adaptor sebagai praktikum Elektronika. Saya juga pernah membuat bel pintu, hanya saja cuma buat mainan saja dan tidak dipakai semestinya.

Setelah lulus SMA, saya sempat ragu untuk memutuskan kemana saya akan pergi. Orang tua saya berkeinginan supaya saya melanjutkan ke perguruan tinggi, “Mumpung Ayah dan Ibu masih bisa membiayai kamu lho” itulah kata-kata Ayah yang masih saya ingat sampai sekarang J.  Akhirnya saya bertekad untuk meneruskan studi saya ke perguruan tinggi.

Untuk persiapan mengikuti SMPTN (Seleksi Masuk Perguruan Tinggi Negeri), saya intensif di sebuah bimbingan belajar (SSC)  selama kurang lebih 1~2 bulan. Selama masa karantina, saya sempat bimbang memilih PTN dan Bidang studi. Di antara dua pilihan, “Informatika” atau “Elektro”. Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya saya memilih “Elektro” :D.

Setelah melalui masa karantina dan berbagai macam ujian (lebai :D),  Alhamdulillah saya diterima di PTN yang saya tuju.

“Selamat Datang di Kampus Perjuangan”, begitulah sambutan yang tertulis di sebuah spanduk yang membentang di pintu gerbang “Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya (ITS)”.

Mulailah kehidupan kampus yang penuh perjuangan :D. Pengkaderan/perploncoan dsb.

Saya sempat diajak teman saya untuk menjadi staff di divisi usaha Badan Eksekutif Mahasiswa tingkat Fakultas. Di sana saya mendapatkan ilmu berorganisasi dan berwirausaha. Sejak tahun ke-3 perkuliahan, saya mulai fokus untuk masuk laboratorium dan mulai meninggalkan kehidupan organisasi di luar lab. Di Laboratorium saya banyak mendapat ilmu tentang pemrograman dan jaringan komputer. Tidak hanya itu saja, ketrampilan bersih-bersih lab juga tidak ada duanya jika dibandingkan dengan lab-lab bidang studi lainnya :D. Di Lab ternyata juga bias berkarir, mulai dari staff, admin, hingga koordinator asisten pernah saya lalui.

Mendekati smester akhir, saya memutuskan untuk mengambil tugas akhir seputar Grid Computing, yaitu komputasi tersebar dengan memanfaatkan komputer-komputer yang sedang idle untuk dipakai sebagai sumber komputasi.

Setelah lulus dari perguruan tinggi, saya bekerja di sebuah perusahaan Integrator selama 10 bulan sebagai Junior Programmer. Alhamdulillah selama 10 bulan tersebut saya mendapatkan banyak pengalaman, terutama ketika bekerja under pressure.

Dari dosen elektro (Bpk. Hariadi), ada kabar tentang beasiswa study S2 ke Jepang. Mulanya saya sempat ragu-ragu mengingat IPK dan Toefl yang tidak begitu bagus. Setelah melalui proses seleksi dokumen dan interview, Mungkin karena faktor X saya bisa diterima di sebuah perguruan tinggi di jepang dengan beasiswa monbukagakusho.

“Tokyo University of Technology” itulah nama kampus saya yang terletak di Hachioji, Tokyo. Tak pernah sekalipun saya membayangkan bisa bersekolah di negeri sakura ini. Life Expense yang sangat tinggi, membuat saya harus berpikir berulang-ulang ketika hendak membeli barang kebutuhan.

Akademikpun tak lepas dari tantangan. Bahasa Jepang, itulah bahasa yang saya anggap paling sulit saat ini. Dalam Bahasa Jepang terdapat beberapa tingkat kesopanan. Hal ini diterapkan ketika berbicara dengan teman, dosen, atau rekan bisnis. Dalam istilah bahasa jawa mungkin seperti : ngoko,  madya, krama. Dalam bahasa jepang juga terdapat tenses seperti halnya bahasa inggris. Tata bahasa yang digunakan dalam percakapan juga berbeda dengan tata bahasa tulisan. Dan yang tak kalah menarik adalah Kanji :D. ada berpuluh2 ribu jumlah huruf kanji. Sekitar 2000 huruf kanji yang umum dipakai.

Soal Riset, di sini sistemnya cukup bagus. Setiap minggu terdapat presentasi riset dari tiap mahasiswa. Dengan dengan demikian diharapkan bisa mempercepat selesainya riset tersebut. Originalitas dan nilai tambah dari sistem/produk yang dihasilkan juga sangat diperhatikan.

Saat ini saya melakukan riset tentang online game. Riset yang bertemakan game cukup sulit dilakukan terutama yang menyangkut teknologi, karena pada umumnya riset-riset yang dilakukan oleh perusahaan game bersifat closed. Hal ini menjadi kesulitan tersendiri bagi para researcher untuk melakukan assessment terhadap sistem/produk yang dihasilkan.

Advertisements
Categories: Life
  1. December 18, 2010 at 2:37 am

    gudlak bro utk masa depannya 😉

  2. txcom2003
    December 20, 2010 at 12:19 am

    ok thanks rull

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: